Resensi Buku: The Leader in Me

Ditulis Oleh: Asep Sufyan Tsauri
Thursday, June 2, 2011 11:19 am
 

Sebelum bercerita pengalaman yang saya dapatkan dari buku ini, berikut resensi buku “The Leader in Me” karya Stephen R. Covey itu:

Dunia memasuki era perubahan yang paling besar dan menantang dalam sejarah manusia. Sebagian besar anak kita tidak siap, dan kita tahui itu. Orangtua tahu anak-anak mereka harus menjadi lebih bertanggung jawab, kreatif, dan menoleransi perbedaan. Mereka harus meningkatkan kemampuan berpikir untuk diri sendiri, bergaul dengan orang lain, dan memecahkan masalah. Pemimpin bisnis tidak menemukan orang-orang yang memiliki keterampilan dan karakter yang sesuai dengan tuntutan ekonomi global masa kini, antara lain keterampilan komunikasi yang kuat, kerja sama tim, analitis, organisasi. Mereka membutuhkan orang-orang muda yang mempunyai motivasi diri, kreatif, dan etos kerja yang kuat.
Bagaimana kita menjembatani jurang yang semakin lebar ini? The Leader in Me adalah kisah tentang sekolah, orangtua, dan pemimpin bisnis luar biasa yang semakin banyak jumlahnya di seluruh dunia yang mempersiapkan satu generasi anak-anak untuk benar-benar menjalankan kehidupan dan menghadapi tantangan serta peluang besar yang timbul di dunia masa kini yang rumit. Hasilnya antara lain adalah meningkatnya angka ujian secara signifikan, kepuasan orangtua dan guru, serta kepercayaan diri siswa.
Dengan mengacu pada banyak teknik dan contoh yang sudah menuai kesuksesan luar biasa di seluruh dunia, The Leader in Me menunjukkan betapa mudah memasukkan keterampilan ini ke kehidupan sehari-hari. Ini adalah jawaban yang tepat terhadap banyak tantangan yang dihadapi kaum muda, bisnis, orangtua, dan pendidik masa kini-jawaban yang cocok dengan tuntutan global abad ke-21.

Yap, secara umum buku ini bercerita tentang apa yang ada dalam resensi tersebut, yaitu Stephen Covey yang menciptakan konsep The 7 Habits yang terkenal itu bercerita tentang pengalamannya membantu seorang kepala sekolah dasar bernama AB Combs Elementary School di Amerika Serikat untuk menjadikan konsep The 7 Habits tersebut menjadi visi sekolahnya.

Berawal dari cerita seorang kepala sekolah yang merasa bahwa sekolah yang dipimpinnya tersebut sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan stakeholder sekolah, — tidak punya visi! Sehingga dia berkonsultasi pada Stephen Covey tentang mungkinkah prinsip The 7 habits diterapkan dalam kehidupan sekolah dasar yang dipimpinnya? Dengan sangat yakin Stephen Covey menyatakan “sangat mungkin!” dan membantunya mewujudkan harapan itu.

Sumber Gambar: http://combses.wcpss.net/

Berikut langkah-langkah yang dilakukan oleh AB Combs dalam menerapkan 7 habits dalam budaya sekolahnya:

  1. Meriset keinginan dan kebutuhan para stakeholder sekolah (orang tua, industri dan bisnis, dan guru)
  2. Merumuskan blueprint sekolah
  3. Konsolidasi internal
  4. Memulai melakukan

Dari 4 (empat) langkah tersebut, AB Combs berhasil menerapkan apa yang disebut The 7 Habits di sekolah, tidak hanya kepala sekolah dan guru, justru yang utama melakukan adalah siswa, siswa umur 5 hingga 12 tahun.

Terakhir, buku ini (bab 6-10) bercerita tentang bagaimana konsep “The Leader in Me” yang digagas di sekolah AB Combs tersebut diadopsi di beberapa sekolah lain, dan berhasil!

Saya sangat terkesan membaca buku ini, selain gaya penyampaian yang santai juga memberikan step-by-step yang sangat mungkin diadopsi oleh sekolah-sekolah di Indonesia (IMHO).

This entry was posted in Opini,Profil and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to “Resensi Buku: The Leader in Me”

Leave a Reply

 

Formulir Pendaftaran

Silahkan mendaftarkan diri untuk dapat berkontribusi di komunitas Pojok Pendidikan.

 

Apa Pojok Pendidikan?

Pojok Pendidikan merupakan perwujudan ide dan gagasan mengenai pendidikan. Berawal dari sekumpulan anak muda yang sering 'nongkrong' di media daring. Sebagian dari kami baru berkiprah di masyarakat setelah lulus dari sebuah perguruan tinggi yang berlatarbelakang pendidikan. Pekerjaan merekapun beragam, ada yang menjadi guru, dosen, wirausahawan, designer, bahkan ada yang masih kuliah. Walaupun kesibukan berbeda, namun kami selalu berdiskusi dan bertukar ide baik yang serius atau yang bersifat santai dalam medium daring. Selengkapnya »
 

Kolom Pakar